expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 22 September 2010

Perkembangan Seksualitas Remaja


Perkembanganmenunjuk pada perubahan-perubahan dalam bentuk/bagian tubuh dan integrasi ke dalam satu kesatuan fungsional bila pertumbuhan itu berlangsung
Sebagian ahli yang mengklasifikasikan perkembangan anak beberapa fase 

  1. Fase pertama atau Tamyiz (masa pra pubertas). Fase ini ada pada usia antara 7–10 tahun. Pada tahap ini anak mengenali identitas diri berkaitan erat dengan organ biologis mereka serta perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
    Fase kedua atau Murahaqah (pubertas), ada pada usia 10-14 tahun. Pada tahap umur ini, anak harus sudah mengenal fungsi biologis secara ilmiah, batas aurat, kesopanan, akhlak pergaulan laki-laki dan menjaga kesopanan serta harga diri. Pada masa ini anak sebaiknya dijauhkan dari berbagai rangsangan seksual, seperti bioskop, buku-buku porno, buku-buku yang memperlihatkan perempuan-perempuan yang berpakaian mini dan sebagainya.
    Fase ketiga atau Bulugh (Masa Adolesen), pada usia 14-16 tahun. Pada tahap ini adalah paling kritis dan penting, karena naluri ingin tahu dalam diri anak semakin meningkat ditambah dengan tahapan umur yang semakin menampakkan kematangan berfikir. Pada masa ini juga anak sudah siap menikah (ditandai dengan mulai berfungsinya alat-alat reproduksi), maka anak bisa diberi pelajaran tentang etika hubungan seksual.
    Fase keempat (masa pemuda), setelah masa andolesen, pada masa ini anak diberi harus sudah bisa menjaga diri jika belum mampu melaksanakan pernikahan.
    Fase kelima (analisa).

Sikap  yang harus dilakukan dalam hal perkembangan seks berdasarkan usia

Usia 0-5 tahun

Bantu anak agar merasa nyaman dengan tubuhnya

Beri sentuhan dan pelukan kepada anak agar mereka merasakan kasih sàyang dari orangtuanya secara tulus.

Bantu anak memahami perbedaan perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan di depan umum. Contohnya, saat anak selesai mandi harus mengenakan baju di dalam kamar mandi atau di kamarnya. Orangtua harus menanamkan bahwa tidak diperkenankan berlarian usai mandi tanpa busana. Anak harus tahu bahwa ada hal-hal pribadi dari tubuhnya yang tidak sèmua orang boleh lihat apalagi menyentuhnya.

Ajari anak untuk mengetahui perbedaan anatomi tubuh pria dan wanita. Jelaskan proses tubuh seperti hamil dan melahirkan dalam kalimat sederhana. Dari sini bisa dijelaskan bagaimana bayi bisa berada dalam kandungan ibu. Tentu saja harus dilihat perkembangan kognitif anak. Yang penting orangtua tidak membohongi anak misalnya dengan mengatakan kalau adik datang dari langit atau dibawa burung. Cobalah memosisikan diri Anda sebagai anak pada usia tersebut. Cukup beritahu hal-hal yang ingin diketahuinya. Jelaskan dengan contoh yang terjadi pada binatang.

Hindari perasaan malu dan bersalah atas bentuk serta fungsi tubuhnya.

Ajarkan anak untuk mengetahui nama yang benar setiap bagian tubuh dan fungsinya. Katakan vagina untuk alat kelamin wanita dan penis untuk alat kelamin pria ketimbang mengatakan burung atau yang lainnya.

Bantu anak memahami konsep pribadi dan ajarkan mereka kalau pembicaraan soal seks adalah pribadi.

Beri dukungan dan suasana kondusif agar anak mau datang kepada orangtua untuk bertanya soal seks


Usia 6-9 tahun

Tetap menginformasikan masalah seks kepada anak, meski tidak ditanya.

Jelaskan bahwa setiap keluarga mempunyai nilai-nilai sendiri yang patut dihargai. Seperti nilai untuk menjaga diri sebagai perempuan atau laki-laki serta menghargai lawan jenisnya.

Berikan informasi mendasar tentang permasalahan seksual

Beritahukan kepada anak perubahan yang akan terjadi saat mereka menginjak masa pubertas.

Usia 10-12 tahun

Bantu anak memahami masa pubertas.

Berikan penjelasan soal menstruasi bagi anak perempuan serta mimpi basah bagi anak laki-laki sebelum mereka mengalaminya. Dengan begitu anak sudah diberi persiapan tentang perubahan yang bakal terjadi pada dirinya.

Hargai privasi anak.

Dukung anak untuk melakukan komunikasi terbuka.

Tekankan kepada anak bahwa proses kematangan seksual setiap individu itu berbeda-beda. Bantu anak untuk memahami bahwa meskipun secara fisik ia sudah dewasa, aspek kognitif dan emosionalnya belum dewasa untuk berhubungan intim.

Beri pemahaman kepada anak bahwa banyak cara untuk mengekspresikan cinta dan kasih sayang tanpa perlu berhubungan intim.

Diskusi terbuka dengan anak tentang alat kontrasepsi. Katakan bahwa alat kontrasepsi berguna bagi pasangan suami istri untuk mengatur atau menjarangkan kelahiran.

Diskusikan tentang perasaan emosional dan seksual.


Usia 13-15 tahun

Ajarkan tentang nilai keluarga dan agama.

Ungkapkan kepada anak kalau ada beragam cara untuk mengekspresikan cinta.

Diskusikan dengan anak tentang faktor-faktor yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan hubungan seks.


Usia 16-18 tahun

Dukung anak untuk mengambil keputusan sambil memberi informasi berdasarkan apa seharusnya ia mengambil keputusan itu.

Diskusikan dengan anak tentang perilaku seks yang tidak sehat dan ilegal.

Pandangan Seksualitas Pada Remaja

1.Rasa ingin tahu

2.Mengalami masa pubertas

3.Status gizi

4.Mudahnya mendapatkan produk-produk pornografi

5.Mengikuti teman dan lingkungannya

6.Pemberitahuan yang salah tentang “save sex with condom”

7.Banyaknya informasi menyesatkan tentang sex

8.Kurangnya pendidikan sexualitas yang benar

9.Seksualitas bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan


Hal hal yang perlu menjadi perhatian dan pertimbangan dalam memahami  perkembangan seksualitas remaja

Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik

Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa

Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial, moralitas dan keagamaan

Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian, dan emosional.

 
sikap yang Sebaiknya dilakukan dalam menyikapi  Remaja yang sedang Bermasalah

1.Menjauhkan anak dari berbagai rangsangan

2.Menguatkan identitas diri sebagai anak laki-laki atau perempuan

3.Membatasi pergaulan sejenis

4.Secara sistemik menghilangkan berbagai hal di tengah masyarakat yang dapat merangsang orang untuk melakukan perilaku seksual

5.Bagi orang tua hendaknya meningkatkan kewaspadaan dan bimbingannya kepada putra-putrinya, dengan melakukan komunikasi seefektif mungkin.

6.Perlu adanya suasana keterbukaan antara orang tua dan anak atau guru dan murid.

7.Bersikapklah kritis terhadap anak.

8.Pembinaan dari para alim ulama dan tokoh-tokoh masyarakat lebih ditingkatkan.

9.Menambah kegiatan yang positif di luar jam sekolah, misalnya kegiatan olahraga, kesenian, koperasi, wiraswasta.

10.Perlu dikembangkan model pembinaan remaja yang meliputi seks, PMS, KB dan kegiatan lain yang berhubungan dengan reproduksi sehat, informasi yang terarah baik secara formal maupun informal.

11.Perlu adanya wadah untuk menampung permasalahan reproduksi remaja yang sesuai dengan kebutuhan remaja.

12.Perlu adanya sikap tegas dari pemerintah dalam mengambil tindakan terhadap pelaku seks bebas

Perbedaan dan Persamaan yang perlu menjadi perhatian antara seksualitas pada remaja dan dewasa

Bagaimana memperlakukan organ sex

Pengontrolan emosi seksualitas

Hal hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan yang berkaitan dg sexualitas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

musik